| | Kategory : Hukum

Saksi Ahli : “Sultoni Langgar Pasal 263 Ayat (1) KUHP”

Puluhan warga Sumurwelut kembali mendatangi Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu siang (19/9) kemarin untuk menyaksikan sidang perkara pidana pemalsuan surat (pasal 263 ayat (1)), dengan terdakwa Sultoni. Apalagi hari itu, tiga mantan Lurah Warugunung yang terkait kasus tersebut dihadirkan. Tak lain adalah, Didik Eko Prasetijanto (kini Lurah Sumurwelut), M.  Syahrir (yang menggantikan Sultoni sebagai Lurah Warugunung) dan Sultoni (terdakwa). Tak urung depan ruang sidang Sari 2 pun penuh sesak dijubeli pengunjung.

Masih dalam sidang pemeriksaan saksi – saksi. Kesaksian Ny Samigati benar – benar membuat Ketua Majelis Hakim Belman Tambunan SH, MH, menjadi keki, dan sebaliknya mengundang tawa pengunjung sidang hingga sedikit menyegarkan suasana sidang yang tadinya berlangsung cukup menegangkan, di ruang sidang Sari 2 Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu siang (19/9) kemarin.

Pasalnya, petani warga Kelurahan Sumurwelut, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya, itu tetap saja menjawab pertanyaan sidang dengan bahasa jawa yang medok. Bahkan sering kali tidak nyambung, karena petani yang merupakan ahli waris dari pemilik tanah Sumo P Sumi (masih bersaudara dengan ahli waris pemilik tanah Saprawi P Salem), itu memang tidak paham bahasa Indonesia.

Hingga dengan sedikit berkelakar, Hakim Ketua Belman Tambunan SH, MH, mengatakan, “Ah sudah… saksi ini selalu pakai bahasa inggris… tidak paham kita, kalau gitu pertanyaannya buat kamu saja yang bisa bahasa Indonesia,” seraya menunjuk saksi Legimin, yang duduk di sebelah Ny Samigati. Pengunjung sidang pun kembali di buat tertawa.

Yang pasti, kesaksian Ny Samigati selaku penggarap lahan dengan batas di sebelah barat lahan Saprawi P Salem, Legimin petani penggarap lahan di batas sebelah Timur, dan Misnan petani penggarap di batas sebelah selatan, mematahkan kesaksian H Riduwan yang pada sidang sebelumnya mengatakan lahan – lahan di perbatasan tanah milik Saprawi P Salem digarap oleh petani yang bernama Slamet. Yang benar penggarapnya masing – masing adalah Nasirah, Paiman, dan Supar yang menggarap lahan sawah milik Saprawi P Salem hingga sekarang.

Tidak hanya itu, ketiga saksi ini juga tegas mengatakan di hadapan Majelis Hakim bahwa tak sekali pun tanah sawah milik Saprawi P Salem pernah diperjual – belikan ke pihak lain. Selaku petani penggarap selama ini mereka pun tak pernah dikomplin siapa pun terkait sawah tempat mereka bercocok tanam. Ketiganya juga mengaku tidak kenal terdakwa Sultoni.

Ketegangan suasana sidang memang sangat dirasakan ketika dua orang mantan Lurah Warugunung, M Syahrir dan Didik Eko Prasetijanto (kini Lurah Sumurwelut), selaku saksi dihujani pertanyaan.

M Syahrir, yang ketika itu menggantikan Sultoni sebagai Lurah Warugunung, sempat bersitegang dengan Kuasa Hukum terdakwa, Budi Herlambang SH, MH, karena melontarkan pertanyaan yang sama secara berulang – ulang. Bahkan ketegangan diantara keduanya berlanjut hingga di luar sidang, karena M Syahrir memberikan kesaksian yang dianggap malah  menyudutkan terdakwa. Di hadapan Mejelis Hakim, Syahrir tegas mengatakan, bahwa untuk menandatangani Sporadik, seorang lurah harus turun langsung melihat tanah dan batas – batasnya. “Kalau tidak turun langsung salah…. Bapak Hakim,” katanya.

Sedangkan saksi Didik, ditegur keras oleh Hakim Ketua Belman Tambunan SH, MH, karena memberikan kesaksian yang menyimpang dari keterangannya di BAP. Pasalnya ketika ditanya tentang luas tanah milik Saprawi P Salem, Didik mengatakan tidak tahu. Bahkan pertanyaan yang sama sempat di ulang, dan dijawab “tidak tahu” pula. Maka Didik dipanggil ke depan untuk ditunjukkan keterangannya di BAP yang ditanda – tanganinya, yang menyatakan luas tanah milik Saprawi P Salem adalah 13.400 meter persegi.

Saksi lainnya, Budianto, juga kena semprot Majelis Hakim karena ‘mencla – mencle’ alias memberi keterangan yang berubah – ubah. Budianto mengatakan, dialah yang datang ke Notaris Inas Abdulah Thalib SH di Gresik, mewakili Arnold Viktor untuk menandatangani akta jual – beli tanah milik Saprawi P Salem.

Tapi ketika dengan antusias Advokat Budi Herlambang SH, MH, menunjukkan bukti foto transaksi pembayaran tanah yang dilakukan di hadapan Notaris Inas Abdulah Thalib SH, kepada Majelis Hakim, kenyataan malah menjadi boomerang.

“Lho katanya anda yang melakukan transaksi, buktinya foto ini bukan anda tapi foto Sarmin sedang menyerahkan uang kepada Subagio BA. Yang benar saja…. Ah… pusing kita ini. Ingat anda sebagai saksi di sini telah di sumpah lho !” tegas Hakim Ketua Belman Tambunan SH, MH.

Lebih jelas dipaparkan Arif Dwi Atmoko SH MHum, Dosen Hukum Pidana Universitas Narotama, Surabaya, yang dihadirkan sebagai saksi ahli. Intinya, menurut Arif, terdakwa Sultoni sebagai lurah tidak dibenarkan melakukan penandatanganan Sporadik dan pencoretan buku girik desa yang mencatat persil tanah milik Saprawi P Salem, tanpa meninjau ke lokasi.

“Pencoretan buku desa dibenarkan apabila didukung bukti – bukti akta jual beli tanah tersebut dan bukti lainnya. Namun penandatanganan sporadic tanpa melakukan peninjauan langsung ke lokasi tanah yang diperjual belikan adalah salah. Lebih salah lagi, kalau ternyata ahli waris menunjukkan bukti surat – surat kepemilikan tanah dan menyatakan tidak pernah memperjual beikannya, sedangkan lurah sudah melakukan pencoretan data tersebut di buku desa,” jelas Arif.

“Apakah dengan begitu unsur pelanggaran hukum seperti pada pasal 263 ayat (1) KUHP menjadi terpenuhi ?” tanya Jaksa Penuntut Umum I Wayan Oja Miasta, SH.

“Ya, terpenuhi. Menurut saya terdakwa saudara Sultoni, dengan bukti – bukti di atas telah melakukan pelanggaran hukum seperti pada pasal 263 ayat (1) KUHP,” jawab Arif Dwi Atmoko SH, MHum. (Yok, FI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>






Links:louis vuitton